Adsense Indonesia

Ayah Harus Dilibatkan Mengurus Bayi

0

Ayah Harus Dilibatkan Mengurus Bayi
MOTHER & BABY

Pada dasarnya, seorang ayah bisa saja mencemburui bayinya. Ini biasanya dialami pasangan muda yang baru menikah lalu dikaruniai anak pertama tak lama kemudian. Merasakan betapa beratnya beban yang harus ditanggung selama sembilan bulan, usai melahirkan si istri pun memberi perhatian berlebih terhadap bayinya, bahkan memprioritaskan urusan bayi di atas semua masalah (termasuk masalah mengurus suami -- Red.). Sikap seperti ini bisa juga disebabkan oleh adanya perasaan bangga yang dimiliki oleh kebanyakan wanita. Mereka merasa 'lengkap' karena telah menjadi ibu. 

Adanya perasaan bangga menjadi ibu sebenarnya merupakan sesuatu yang alamiah dan universal. Namun jika sampai membuat istri memberi perhatian berlebih yang tanpa disadari telah membuatnya mengabaikan suami, hal itu perlu diwaspadai, terutama oleh pihak istri. Mengapa? Sebab berbagai kemungkinan buruk dapat terjadi. Misalnya, memudarnya kehangatan suami-istri lantaran istri kelewat repot dan asyik dengan si kecil. 

Tanda-tanda kecemburuan pada bayi dapat dilihat dalam keseharian seorang ayah. Contohnya, ketika ibu minta tolong ayah untuk menggendong bayi yang menangis, si ayah melakukannya dengan cemberut. Kecemburuan ayah kepada bayi dapat timbul kapan saja. Bisa pada tiga bulan pertama setelah kelahiran bayi, bisa juga setelah itu tanpa disadari sebelumnya. 

Seorang ibu, misalnya, mengaku mempunyai bayi yang sebentar-sebentar menangis dan hanya mau diam kalau si ibu tadi menggendongnya. Di tengah kesibukannya mengurus bayi, ibu tersebut merasa jengkel dengan sikap suaminya yang seperti tak mau tahu kerepotannya mengurus bayi. Belakangan, setelah sang suami menuduhnya berat sebelah dan tak lagi memperhatikan suami, barulah ia sadar bahwa suami sebenarnya cemburu kepada bayinya. 

Pada intinya, faktor penyebab utama kecemburuan ayah pada bayinya adalah perilaku ibu yang kelewat sibuk dengan bayinya hingga mengabaikan tugas sebagai istri. Rasa cemburu itu diekspresikan melalui ketidakpedulian. Tapi jangan salah. Ayah bisa juga kelihatan tak peduli pada bayinya karena terpengaruh faktor budaya atau kebiasaan 'orang-orang dulu' yang menetapkan peran ayah hanya sebagai pencari nafkah. 

Menurut budaya/kebiasaan ini, jika ayah sampai terlibat dalam urusan bayi, harkatnya sebagai lelaki akan jatuh atau dianggap tidak macho. Akibatnya, ayah menyerahkan urusan anak sepenuhnya kepada ibu. Sementara itu, ibu pun merasa bebannya bertambah berat sehingga tidak bisa/tidak sempat lagi memperhatikan ayah. Ujung-ujungnya, ayah pun merasa cemburu juga karena tak diperhatikan. 
Menurut saya, cara mengatasi hal seperti ini adalah justru dengan melibatkan ayah pada urusan bayi, baik itu di masa kehamilan maupun setelah persalinan dan seterusnya. 

Untuk itu, keduanya (suami-istri) harus membuat komitmen mengenai masalah mengurus anak. Banyak cara untuk melibatkan suami, minta tolong menggantikan popok misalnya. Dari hal-hal kecil seperti itu, suami akan merasa dilibatkan dalam mengurus bayi dan hal itu dapat memperkecil kemungkinan timbulnya kecemburuan terhadap si kecil. 
Para sosiolog Amerika Serikat bahkan mengatakan bahwa pria hendaknya mau membantu istri mengurus dan mengasuh anak agar istri tak terlalu capek dan stres, sehingga ia pun dapat membagi perhatiannya untuk suami, termasuk mampu memenuhi 'undangan' suami tercinta dengan senang hati. 

Dra. Michiko Mamesah, Dosen Universitas Negeri Jakarta 

Bayi Bisa Menjadi Rewel, Cengeng, dan Nakal

Pada dasarnya, perasaan anak sangat halus. Inilah aspek psikologis yang tak bisa dijabarkan oleh siapa pun juga. Apalagi bayi. Ia adalah makhluk yang amat peka. Secara emosional, ia mampu merasakan betapa ayahnya mencemburui kehadirannya serta tak mengharapkan dirinya. Kepekaan untuk merasakan ekspresi-ekspresi negatif seperti ini sifatnya sangat naluriah dan alamiah. Apalagi jika ekspresi yang diungkapkan sang ayah itu sifatnya nyata. Misalnya, ayah selalu berkomentar negatif jika ibu sedang mengurus bayi, atau ayah tak pernah mau terlibat dalam urusan bayi. 

Semua itu tentu saja akan membawa dampak negatif pada bayi. Kemampuan bayi merasakan ketidaksukaan sang ayah terhadap dirinya, misalnya, akan membuat bayi merasa tak nyaman hingga menjadi rewel, sering menangis, dan 'nakal' (tidak kooperatif, sulit diatur, sulit dimengerti tingkah lakunya, dsb. -- Red.). Kasus seperti ini sering terjadi pada pasangan muda yang dituntut untuk segera punya anak oleh orangtua/mertua. Adanya tuntutan seperti itu membuat pasangan tersebut terpaksa punya anak walau sesungguhnya belum merasa siap dengan kehadiran seorang bayi. Akibatnya, masa kehamilan dilalui dengan penuh keterpaksaan dan mengurus bayi pun tak dilakukan dengan benar serta penuh perhatian dan kasih sayang. 

Untuk mencegah bayi tumbuh menjadi anak yang bertingkah laku seperti di atas, seorang ayah sebaiknya harus dilibatkan dalam urusan bayi. Bagaimana supaya ayah mau terlibat? Komunikasi adalah jalan terbaik. Dengan komunikasi, suami-istri dapat membuat komitmen awal berupa kesepakatan bersama untuk terlibat dalam mengurus bayi bersama-sama. b Rika Puspita 
Sumber: Tabloid Ibu & Anak

0 comments:

Posting Komentar

Bila tak pegal di tangan
silahkan tulis sebuah komentar!
Yang Bisa Membuat Blog ini Lebih Bagus Ya :)
harap maklum masih newbie

Dan jika ada yang mau memaki-maki saya harap dengan sopan dan santun?