Adsense Indonesia

Awas Penculik!

0

Awas Penculik! 
Mother  


Kasus penculikan anak belakangan ini mulai marak. Motifnya pun beragam, dari sekedar kebutuhan ekonomi sampai balas dendam. Bagaimana kiat menghindarinya?

Hegel, bocah lelaki berusia 9 tahun yang diculik, sudah diketemukan. Bukan hanya orangtuanya yang bahagia. Setiap orangtua pun bersyukur karenanya. Namun, kasus penculikan anak di Karawang yang berujung tewasnya korban, atau penculikan-penculikan lain yang mungkin terjadi, masih membuat setiap orangtua juga gelisah. Memang, dalam 3 bulan terakhir ini, berita penculikan anak mendominasi media massa. Hal ini tentu saja menimbulkan keresahan para orangtua. Apalagi, motif penculikan saat ini sering tidak jelas, apakah berlatar pemerasan, sengketa keluarga, dendam atau karena si pelaku mempunyai masalah kejiwaan seperti phedopilia.

Menurut konsultan psikologi perkembangan, Michiko Mamesah,M.Psi., sikap waspada memang harus dipunyai orangtua, pengasuh dan orang dewasa lain yang bertugas untuk mengasuh anak. Mengingat motifnya yang beragam, ia menyarankan para orangtua untuk membekali anaknya dengan nilai-nilai dasar, seperti, tidak boleh menerima sesuatu dari orang asing, atau jangan mudah diajak pergi oleh orang dewasa yang tidak dikenalnya.

Namun, menurut psikolog yang juga dosen di Universitas Negeri Jakarta, sikap waspada ini bukan berarti anak harus selalu ditakuti-takuti dengan ancaman penculikan. Kalimat seperti, "Awas lho, nanti bunda panggil penculik, membuat si kecil akan selalu dihantui perasaan takut. Ia juga akan selalu bersikap curiga pada orang lain. Ini tentu saja akan menghambat proses sosialisasinya.

Anak yang 'terlatih' untuk bersikap curiga karena selalu dibekali dengan pesan yang mungkin 'menakutkan', seperti "Hati-hati, nanti diculik," biasanya akan tumbuh menjadi anak yang pendiam. Ia pun akan menjadi pribadi yang kaku, dan tidak mudah bergaul. Untuk itu, Michiko menegaskan, jangan membiarkan si kecil tumbuh dengan rasa takut diculik. 

Jangan Terlalu Ramah
Anak balita pada dasarnya adalah pribadi yang tidak punya prasangka buruk pada orang sekitarnya. Namun, menurut Michiko, anak juga tidak boleh dibiarkan terlalu ramah dengan orang lain, terutama orang dewasa. Untuk itu, orangtua atau pengasuh perlu membekalinya dengan rambu-rambu tertentu, misalnya, bila ada orang asing yang menyapa tetap harus dibalas, namun, tidak boleh menerima pemberiannya, kecuali minta ijin ibu atau ayah terlebih dulu. Ini melatihnya untuk bersikap sopan namun tetap waspada.

Anak yang ramah, memang menyenangkan siapa saja. Bahkan, karena terlalu 'enak' diajak ngobrol, tanpa sadar ia akan membeberkan semua hal tentang dirinya, misalnya, ayahnya siapa, rumahnya dimana, punya mobil apa, dan lain sebagainya. Pada kasus tertentu, informasi inilah yang membuat seseorang ingin menculik. Oleh karena itu, jangan biasakan anak untuk menceritakan hal yang mendetil tentang dirinya pada orang asing. Cukup bekali balita Anda dengan nama ayah dan ibu, alamat dan telepon rumah, serta tempat ia bersekolah.

Di beberapa negara barat, orangtua mulai menghindari mencantumkan identitas anak, misalnya nama, pada tempat yang mudah di lihat. Menyablon nama anak di kaos atau topi dengan huruf besar memang lucu, namun, itu hanya memudahkan penculik untuk membuka komunikasi dengan anak. Anak balita yang dipanggil namanya, biasanya akan langsung menengok, apalagi bila si penyapa adalah orang yang ramah dan menyenangkan. Selanjutnya, ia akan mudah berinteraksi dengan orang tersebut. Nah, penculikan dengan awal seperti inilah yang sering terjadi di tempat umum, seperti mal atau pasar. 

Hati-Hati dengan Orang Dekat
Pada beberapa kasus penculikan, pelaku adalah pengasuh, tetangga bahkan paman dari korban. Untuk kasus yang melibatkan orang-orang dekat ini, orangtua harus ekstra berhati-hati. Michiko menyarankan supaya Anda tahu dengan pasti identitas orang-orang yang bekerja di rumah. Bila perlu, mintalah rekomendasi dari pihak yang Anda percaya. Mengambil tenaga pengasuh dari lembaga atau yayasan yang pemiliknya telah Anda kenal dengan baik, dapat meminimalisir resiko daripada mengambilnya dari tukang sayur keliling misalnya.

Untuk menghadapi hal seperti ini, Anda juga perlu menanamkan aturan untuk 'minta ijin ibu/ayah dulu' pada anak, misalnya, "Kakak nggak boleh pergi sama si mbak kalau belum minta ijin bunda dulu ya." 
Memang, bagi orangtua yang keduanya bekerja, pengawasannya akan lebih longgar. Rajin menghubungi anak di rumah saat Anda di kantor, juga meminimalisir resiko. Namun, jangan lakukan dalam waktu yang sama setiap harinya, misalnya tiap 2 jam sekali. Lakukan dalam jeda waktu yang berbeda. Anak juga perlu dididik bersikap kritis, ini membuatnya secara tidak langsung akan bersikap waspada.

Memang, peristiwa penculikan adalah suatu musibah yang tidak dapat diprediksi kapan akan menimpa keluarga kita. Sikap waspada adalah jalan yang terbaik untuk menghindarinya. Namun, jangan sampai hal ini menghambat Anda dalam mengasuh dan mendidik anak. Michiko menegaskan, anak yang dilimpahi kasih sayang dari kedua orangtuanya, dan tumbuh dalam keluarga yang hangat, biasanya tidak mudah percaya pada orang lain selain ayah dan ibunya.

Mencegah Penculikan

Binalah relasi yang baik dengan semua orang, termasuk pembantu, supir, tukang sayur keliling, atau tukang ojeg yang sering mangkal di depan rumah.

Selektif dalam memilih orang yang akan bekerja di rumah Anda. Mintalah mereka menunjukan KTP asli dan surat keterangan dari Lurah tempat asal mereka. Hindari memperkerjakan orang tak dikenal yang tiba-tiba menawaran diri jadi pembantu atau supir.

Mintalah pengasuh atau orang dewasa lain yang selalu berada di dekat anak untuk bersikap waspada juga. Anda perlu memperkenalkan pada mereka semua anggota keluarga besar yang sering bertemu.

Tanamkan pada anak untuk selalu minta ijin pada ayah atau ibu bila akan diajak pergi seseorang, baik itu pengasuh maupun om dan tantenya.

Tanamkan pada anak untuk tidak mau menerima pemberian apapun dari orang yang tidak dikenalnya. 

Jangan biarkan balita Anda main sendirian di halaman rumah.

Usahakan untuk selalu mengantar jemput si kecil saat ia mulai masuk sekolah.

Minta pihak sekolah mencatat pengantar dan penjemput anak. Bila perlu mintalah kartu identitas khusus untuk mereka.
(nes). 
Sumber: Tabloid Ibu & Anak

0 comments:

Posting Komentar

Bila tak pegal di tangan
silahkan tulis sebuah komentar!
Yang Bisa Membuat Blog ini Lebih Bagus Ya :)
harap maklum masih newbie

Dan jika ada yang mau memaki-maki saya harap dengan sopan dan santun?